1
Aku
lupa awal ceritanya bagaimana, yang aku ingat waktu itu sore langit gelap dan
cuaca mendung entah bagaimana rasanya yang jelas aku masih merasa di Kota
Hujan, namun lampu disini agak sedikit
berbeda, apalagi saat lampu merah menyala, rasanya lama. tapi aku tidak ingin
bercerita tentang itu karna aku bukan petugas jasa rahardja. Aku ingin
bercerita tentang dia, kawanku, kawan yang menemani perjalanan ku ke Kota
Kembang. Aku dan kawanku memang tinggal di Kota Hujan, disana langitnya selalu
mendung makanya ketika langit disini mendung, aku jadi ingat Bi Asih tukang
kopi samping kampus tempat dimana aku dan kawanku berteduh saat hujan di sore
hari, karna malam Bi Asih tutup, mungkin dia ngantuk.
Malam
ini aku sedang menulis ceritanya, ya cerita tentang Kisah di Kota Kembang itu,
katanya teman ku ingin baca, kalau saja teman ku ingin makan maka aku akan
pura-pura mati, karna ini sudah malam dan aku lagi sibuk menulis cerita ini.
Perkenalkan namaku Ra’iz, cukup nama saja yang kalian tahu, karna ini bukan
cerita tentangku. Ini cerita tentang kawanku namanya Didi, itu hanya nama
samaran, disini aku tidak ingin memberitahu nama yang sebenarnya nanti dia
malah minta royalty. Kalau kalian mau tau fisik nya dia itu tinggi, matanya
dua, hidungnya satu tapi lubang hidung nya ada dua, tidak heran karena dia juga
manusia atau mungkin hanya mirip. Entahlah hanya dia, Tuhan, orang tua nya, dan
bidan yang membantu persalinan kelahirannya yang tahu. Jangan bertanya siapa
nama bidannya. Aku pun tak tahu, dan kami tidak ingin membahasnya, maklum pengalaman
pribadi tentang cinta seorang bidan. Ku
bilang jangan diceritakan, nanti dia baca, yang ada dia ke geer an, dan aku
malas jika dia tiba-tiba dia mengirimkan pesan lewat SMS “makasih, karna aku
ada di ceritamu”.
Maaf kalau ceritaku ngaler ngidul, karna aku bukan seorang penulis, cerita ini pun aku ketik bukan bukan ku tulis. Langsung pada awal cerita, aku tidak memulai dengan kata “Dahulu Kala” karna ini bukan cerita tentang Angling Darma. Lagian cerita ini terjadi beberapa hari yang lalu, di sebuah tempat yang memang sudah disiapkan oleh panitia Acara, Tidak perlu ku sebutkan Acara apa, karna di Acara itu aku tetap harus bayar kopi, kalau saja gratis mungkin ku sebutkan, iya mungkin, dan untung nya tidak. Didi ini pemeran utama dalam ceritaku, padahal kalau mau aku sendirilah yang jadi pemeran utamanya. “Tapi kisah mu tak seseru kisahku” kata Didi saat membaca cerita ini, mungkin. Karna saat aku menulis cerita ini, maksudku mengetik cerita ini dia sudah tidur. Entahlah aku tidak tahu karna tidak satu rumah, kalau satu atap iyah. Karna kita sama-sama tinggal di bawah langit. Sudah ku stop dulu bagian yang ini karna monoton.
Pagi di Kota Kembang, tepatnya pukul 14.00 WIB itu siang bukan pagi, tapi aku kan bukan orang bandung, jadi gak apa-apa ku sebut saja pagi. Aku dibangunkan oleh Caca dan Tita yang sengaja datang untuk menagih hutang, ini tidak perlu ku ceritakan karna memalukan. Aku sendiri asik berbincang dengan Caca walau hanya pura-pura agar dia senang, sedangkan Didi dan Tita tidak membuka percakpan sama sekali, mungkin itu yang dinamakan “Cinta Diam Diam”. Sedangkan Ali sendiri aku usir karna badannya bau kambing padahal siang itu dia cuma makan telur, mungin telur kambing. Entahlah lupakan. Kami asik berbincang sampai malam, dan malam itu datang seseorang sebut saja Bruno, dia terlihat bete mungkin karena cape. Lalu berlalu begitu saja.
2
3
Maaf kalau ceritaku ngaler ngidul, karna aku bukan seorang penulis, cerita ini pun aku ketik bukan bukan ku tulis. Langsung pada awal cerita, aku tidak memulai dengan kata “Dahulu Kala” karna ini bukan cerita tentang Angling Darma. Lagian cerita ini terjadi beberapa hari yang lalu, di sebuah tempat yang memang sudah disiapkan oleh panitia Acara, Tidak perlu ku sebutkan Acara apa, karna di Acara itu aku tetap harus bayar kopi, kalau saja gratis mungkin ku sebutkan, iya mungkin, dan untung nya tidak. Didi ini pemeran utama dalam ceritaku, padahal kalau mau aku sendirilah yang jadi pemeran utamanya. “Tapi kisah mu tak seseru kisahku” kata Didi saat membaca cerita ini, mungkin. Karna saat aku menulis cerita ini, maksudku mengetik cerita ini dia sudah tidur. Entahlah aku tidak tahu karna tidak satu rumah, kalau satu atap iyah. Karna kita sama-sama tinggal di bawah langit. Sudah ku stop dulu bagian yang ini karna monoton.
4
Di
Acara itu dia bertemu dengan seorang Gadis bukan Vocalist. Karna Vocalist itu
untuk ceritaku nanti. Dia cuma panitia yang berkeliling membawa kardus, entah
maksudnya apa, yang jelas saat dia melewati ku, dia minta sesuatu, dan aku
pura-pura dalam perahu, kura-kura tidak makan tahu. Gadis itu bernama Tita, itu
nama samaran juga, nama aslinya tidak tahu, karna dia belum punya KTP, mungkin.
Sebenarnya dia sudah saling kenal, di Dunia Maya. Padahal kalian tahu Dunia
Maya hanya untuk Ahmad Dhani. Siapa mereka? Pasangan penyanyi yang selalu cari
sensasi.
5
Saat
Acara berlangsung aku dan salah satu teman ku pamit untuk membeli minum, minum
yang ku maksud kalian pasti tahu. Tidak ingin ku sebutkan, karna Arak itu
haram. Dan aku takut salah satu pembacaku ini anggota FPI. Yang ada ceritaku
diacak diacak karna mengandung SARA. Apalah ini. Lanjut ke cerita. Di
perjalanan aku diajak ke suatu tempat yang ada tulisan D.A.G.O. entah apa nama
tempat tersebut, yang jelas disana banyak pemuda pemudi yang sedang pacatrok
huntu (Unjuk Gigi). Itu cuma ungkapan jangan diperpanjang nanti kalian makin
penasaran, dan heran kenapa aku malah cerita tentang ini.
6
Setelah
mendapatkan minum yang ku maksud aku kembali ke tempat Acara. Namun betapa
kagetnya saat aku sampai diparkiran, sebenarnya ga kaget sih, hanya pura-pura
saja agar cerita ini ada klimaksnya padahal belum. Disana Didi sedang asik
mengobrol, dengan siapa kalian pasti tahu, ya dia si Emang tukang Mie Ayam.
Ternyata si Emang belum pulang padahal sudah dibayar. Mungkin dia bergadang,
padahal itu tidak baik untuk kesehatan. Bukan, Didi sedang asik mengbrol dengan
Tita ya wanita si pembawa kardus itu. Entah apa yang mereka obrolkan yang jelas
itu bukan tentang tulisan yang sedang aku buat, karna belum jadi. Oh ya, saat
tulisan ini aku buat, playlist music ku Ada Band. Dan lagu yang sedang melantun
ini judulnya “Setengah Hati” mungkin cocok buat soundtrack ceritaku kalau
dijadikan Film.
7
Sampai
mana tadi??? Maaf barusan aku ketiduran. Sekarang aku lanjutkan lagi ceritanya,
Aku tinggalkan mereka yang sedang asik mengobrol. Acara itu semakin ramai,
karena adanya standup comedy dari salah satu akun Twitter Sunda @infosebel.
Harus nya sih admin @infosebel itu baca ceritaku, namun aku maklum karna dia
tidak pernah langganan paket Full Service. Acara semakin meriah sampai aku tak
sadar bahwa Didi sudah ada di sampingku lagi.
“Di,
kumaha tadi? Sukses?” (Di, gimana tadi? Sukses?) tanyaku
“NAON
AISIA” (Apasih) saut Didi.
“okey”
timpal aku lagi.
Acara
sudah selesai dan aku bersiap untuk pergi tidur, tapi diamana? Ternyata Ali
temanku dari temannya Didi yang katanya mereka temenan menawarkan ku untuk
menginap di Kontrakan nya. Ya Ali juga nama samaran, Didi bersama Ali, sedang
aku bersama Leo, Leo ini tidak aku samarkan karna dia menyogok ku dengan rokok
mild sebungkus kalau nama dia harus ditulis persis di ceritaku. Sesampainya di
Kontrakan aku istirahat bersama Didi dan Ali karna cape. Kalau tidak cape
mungkin aku sudah mengajak mereka berlari di lapangan Gazibu. Sekarang aku tau
Gazibu berkat Ali. Makasih Ali… Maaf di cerita ini aku sengaja melewatkan
moment dimana aku memberikan setangkai bunga kepada Caca, namanya ku samarkan
lagi. Ya kalian tahu itu hanya pura-pura saja, agar dia tahu aku hanya
bersandiwara. Maaf Caca jangan berharap lebih dari ku, karna kau tau sendiri
hidupku pun kekurangan. Ini apa??? Fokus ke cerita Didi.
8
Pagi di Kota Kembang, tepatnya pukul 14.00 WIB itu siang bukan pagi, tapi aku kan bukan orang bandung, jadi gak apa-apa ku sebut saja pagi. Aku dibangunkan oleh Caca dan Tita yang sengaja datang untuk menagih hutang, ini tidak perlu ku ceritakan karna memalukan. Aku sendiri asik berbincang dengan Caca walau hanya pura-pura agar dia senang, sedangkan Didi dan Tita tidak membuka percakpan sama sekali, mungkin itu yang dinamakan “Cinta Diam Diam”. Sedangkan Ali sendiri aku usir karna badannya bau kambing padahal siang itu dia cuma makan telur, mungin telur kambing. Entahlah lupakan. Kami asik berbincang sampai malam, dan malam itu datang seseorang sebut saja Bruno, dia terlihat bete mungkin karena cape. Lalu berlalu begitu saja.
9
Waktu
itu pukul 19.30 WIB dan kami bermaksud pergi ke Kopi Jenggo tapi tidak jadi
karena tutup. Lokasi nya kalau tidak salah di monument depan UNPAD. Udah itu
saja lalu kita pindah lokasi lagi ke daerah Dago, disana ada tempat tongkrongan
yang kurasa biasa saja karna aku tidak punya pacar. Tak lama datang teman kami,
ya aku kenal mereka tak usah ku sebut namanya, karna kalian tidak akan kenal
kalau tidak kenalan. Tidak lama berselang, datang lagi teman kami dia berdua,
tapi semuanya laki-laki. Kasian mereka. Menikmati dinginnya Kota Kembang dengan
jenis yang sama. Berjam-jam kami disana menghabiskan waktu untuk berbincang, ku
lihat mata Tita memperhatikan Didi, tapi Didi sendiri malah memperhatikan
wanita yang sedang duduk berdua dengan pacarnya, aku pun sama, mungkin karena
memang wanita itu cantik. Mata Tita tidak lepas memperhatikan Didi, lalu Didi
melirik balik, mata mereka bertemu. Aku tersenyum, bukan karena melihat mereka,
tapi aku menguping pembicaran wanita yang bersama pacarnya itu, kalian tahu
lelaki itu bukan pacarnya. Aku senang, tapi buat apa? Karena perbincangan kami
menemukan titik jenuh, akhirnya Truth Or
Dare pun kami buka untuk mencairkan suasana. Semua terlihat tegang, bukan
karena game itu melainkan kebelet pipis, khususnya Teh Un. Dia memang kebelet
pipis dari semenjak datang.
10
Singkat
cerita Caca kena, dan dia memilih Truth. Aku tidak mengerti game itu dan
ketiduran, tapi tidak jadi karna dibangunkan lagi. Caca diberi pertanyaan
seperti ini
“Kamu
sudah ngapain aja sama mantan kamu?”
“Ciuman,
udah itu aja” jawab nya singkat.
Lalu
giliran Ali, dia pun sama memilih Truth. Pertanyaan nya ringan sekali.
“Kamu
suka sama Caca?”
“Tidak”
timpal Ali yang menjawab lebih singkat dari Caca rupanya.
Udah
itu aja dan ternyata permainan itu garing. Padahal maksud kami mengadakan
permainan itu ditujukan untuk Didi dan Tita biar mereka bisa lebh terbuka. Tapi
apa daya botol itu seperti tidak ingin membuka rahasia diantara mereka berdua.
Malam
semakin larut, lalu mereka pamit pulang, di mulai dari Tita yang pamit, lalu
Teh Un sama pacarnya, dan baru kita semua bisa benar-benar bubar setelah tahu
itu tempat ternyata mau tutup, tapi sebelum pulang ada sedikit cerita tentang
Didi dan Tita. Entah kenapa mereka selalu diam saat bertemu, tidak seperti di
Sosmed yang selalu terbuka, mungkin mereka canggung atau mungkin mereka memang
tidak ditakdirkan untuk saling berbincang. Namun ku yakin hati mereka saling
bertemu di peraduan yang dingin itu. Kuharap. Mereka kelak akan menjadi
sepasang kekasih, walau ku tahu Didi masih teringat dengan mantan nya di kota
ini, Kota Kembang. tapi dia bukan orang bego, yang terkadang memang iya. Didi bisa
menyembunyikan kesakitannya untuk menjaga perasaan Tita. Tita sendiri ku kira
dia memang wanita istimewa. Dia tidak menunjukan kecemburuannya atau mungkin
dia memang tidak cemburu sama sekali, maklum aku tidak terlalu pandai membaca
perangai seorang wanita. Entahlah itu rahasia mereka. Kuharap malam ini saat ku
tulis cerita tentang mereka, Tuhan mendengar apa yang aku harapkan. Iya aku
berharap cerita ini cepat selesai, karna aku ngantuk.
11
Keesokan
pagi nya kita pamit pulang, yah kembali ke Kota Hujan. Cerita ini memang ku
ceritakan singkat, dan tidak menarik. Tapi untuk kami yang mengaliminya itu sangat
berkesan. Karna apa? Karna malam itu mereka mengajarkan bahwa jika ingin difoto
jangan dimalam hari, karna itu teralalu gelap untuk kamera BB Gemini 8250 ku.
Kawan saat aku selesai menulis cerita ini, percayalah aku tidak langsung tidur,
karna aku harus cuci muka dan cuci kaki dulu. Tidak, percayalah saat aku
selesai menulis cerita ini aku sedang mengumpulkan puing puing kenangan yang
sudah berceceran karena tidak langsung kurangkai. Maaf jika tulisan ini tidak
bisa mewakili perasaan kalian yang dalam. Sudah ku bilang aku bukan penulis.
Dan sudah ku bilang aku ngantuk. Aku tidur duluan.
BERSAMBUNG
Ini hanya sebuah cerita monolog… mungkin, karena aku tida mengerti. Maklum aku bukan anak Sastra B.Indonesia. Cerita aslinya sengaja aku simpan rapat agar menjadi rahasia kita. Terimakasih…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar